by

Datuk Sri Niaga Buka Diklatcab dan Muscab III HIPMI Bengkalis Di Hotel Marina

-Berita-46 views

NarasiNews,Bengkalis – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia ( HIPMI ) Kabupaten Bengkalis Mengelar Pendidikan dan Pelatihan Cabang ( Diklatcab ) dan Musyawarah Cabang ( Muscab ) ke – III, dengan tema Peran Pengusaha Muda Dalam Pemulihan Ekonomi Daerah di Masa Pandemi Covid – 19, yang dibuka secara resmi oleh Datuk Sri Niaga Budi Febriadi Ketua Umum BPD HIPMI Riau. di aula Hotel Pantai Marina, Rabu pagi ( 3/2/21).

Turut hadir, Ketua Umum BPD HIPMI Riau Datuk Budi Febriadi, Pj Bupati Bengkalis diwakili Indra Gunawan Kadisdagperin, Kajari Bengkalis Nanik Khushartani, SH.,MH, Kapolres Bengkalis diwakili Kasi Intel, MKA LAMR Bengkalis Datuk Zainuddin Yusuf, Kodim 0303 Bengkalis diwakili Dedek Irwanto, Lanut, MUI Bengkalis, BUMD, Pimpinan Bank, kepala SKPD. dan pengurus Asosiasi Bengkalis.Mantan Bendahara Umum BPC HIPMI Bengkalis Darma Firdaus Sitompul dalam sambutannya menyampaikan, dengan dibentuknya pengurusan HIPMI Bengkalis yang baru bisa bersinergi dengan pemerintah, dan kepada adik-adik yang mengikuti Diklatcab nantinya semoga ilmu yang disampaikan sama pemateri bisa bermanfaat dan bisa tahu sejarah HIPMI ini.

” Kata DarmaMenurut Darma Firdaus Akses yang didapat di HIPMI ini bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.”HIPMI ini besar, kita punya moto pejuang pengusaha, pengusaha pejuang, sehingga nanti akses yang kita dapatkan di HIPMI ini bisa di pergunakan dengan baik, baik ditingkat daerah, provinsi maupun pusat.

” jelas Darma Sementara itu, Ketua Umum BPD HIPMI Riau Datuk Budi Febriadi mengatakan, bahwa HIPMI telah didirikan pada tanggal 10 Juni 1972, hakikat didirikan HIPMI oleh ayahnda Abdul Latief yang masih segar bugar pada saat penabalan saya waktu itu sebagai Datuk Sri Niaga beliau hadir,beliau telah menulis sebuah buku bangkitnya interprener nasionalis.” ungkap Datuk BudiDia menambahkan , HIPMI ada karena kita membutuhkan adanya sebuah wadah pengkaderan bagi anak-anak negeri yang mungkin tidak bisa lagi melanjutkan pada jenjang perkuliahan, maka kemudian dia menginginkan adanya perubahan dalam nasib hidupnya, tapi kemudian tidak ada yang bisa memberikan bimbingan kepadanya langsung.

maka oleh sebab itu tempat gratis anak-anak muda ini adalah HIPMI. “Asal kejadian pengusaha ini ada dua, yang pertama pengusaha yang lahir bayi nasab, alias anak orang kaya, baru lahir sudah jadi direktur, yang kedua bayi nasib, alias betul-betul berjuang dari susah. contohnya saya budak yatim dari Mande, mengambil upah kelapa seharga 3 rupiah pada masa itu, sampai jadi tukang cuci piring sehari upahnya 3.000 rupiah demi membiayai sekolah saya di MTS. inilah yang saya arungi dahulu.

tanpa menyangka 3 tahun menjadi tukang cuci piring bisa menjadi pengusaha pujasera. alhamdulillah dengan modal tenaga saya bisa jadi pengusaha.” cerita Datuk Budi. ( Redaksi )

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Umpan Berita