by

Dilema Dolar AS: Lemah Gegara Kabar Bagus dari Negeri Sendiri

NarasiNews, Jakarta, – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) melemah melawan mata uang Asia dan Eropa pada perdagangan Jumat (17/4/2020). Sebabnya, ada kabar bagus terkait penyakit virus corona (COVID-19) dalam dalam negerinya sendiri.

Dolar AS melemah melawan semua mata uang utama Asia. Rupiah memimpin penguatan di Benua Kuning sebesar 1,28%.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia hingga pukul 16:40 WIB.

Nasib yang sama diderita dolar AS di pasar Eropa, meski pelemahannya tidak sebesar berhadapan dengan mata uang Asia.

Berdasarkan data Refinitiv, pada pukul 19:15 WIB euro mampu menguat 0,23% melawan dolar AS di US$ 1,0860, begitu juga dengan poundsterling menguat sebesar 0,25% di US$ 1,2486. Di waktu yang sama, franc Swiss menguat 0,25% ke 0,9679/US$.

Kabar bagus datang dari Amerika Serikat dini hari tadi. Harapan akan segera berakhirnya pandemi COVID-19 kembali muncul setelah adanya kabar Gilead Science Inc, raksasa farmasi di AS, memiliki obat yang efektif melawan virus corona.

CNBC International mengutip media STAT melaporkan rumah sakit di Chicago merawat pasien COVID-19 yang parah dengan obat antivirus remdesivir yang dalam uji coba klinis dan diawasi ketat. Hasilnya, pasien tersebut menunjukkan pemulihan yang cepat dari demam dan gangguan pernapasan.

Kabar tersebut membuat sentimen pelaku pasar membaik, bursa saham Asia dan Eropa menghijau, begitu juga dengan indeks berjangka Wall Street yang langsung melesat lebih dari 3%. Kenaikan indeks berjangka tersebut menjadi indikasi bursa saham AS juga akan melesat begitu perdagangan nanti dibuka.

Selain kabar adanya obat yang efektif melawan virus corona, laju penyebaran COVID-19 di AS juga sudah mulai melambat. Data US Centers for Desease Control and Prevention (CDC) menyebutkan jumlah pasien corona di Negeri Paman Sam adalah 632.548. Bertambah 4,49% dibandingkan hari sebelumnya.

Kenaikan 4,49% lebih rendah dibandingkan pertumbuhan hari sebelumnya yang sebesar 4,56%. Sejak 8 April, persentase kenaikan kasus corona di AS bertahan di kisaran satu digit dengan kecenderungan menurun.

Oleh karena itu, Presiden AS Donald Trump mulai berpikir untuk melonggarkan aturan pembatasan sosial (social distancing) dan karantina wilayah (lockdown) yang diberlakukan di banyak negara bagian. Pelonggaran itu akan dilakukan secara bertahap.

“Kami tidak membuka begitu saja, tetapi selangkah demi selangkah. Lockdown yang terlalu lama ditambah dengan depresi ekonomi yang menyertainya malah membuat masalah bagi kesehatan masyarakat. Akan lebih banyak kasus penyalahgunaan obat-obatan, kecanduan alkohol, kecenderungan bunuh diri, atau penyakit jantung,” tegas Trump, sebagaimana diberitakan Reuters.

Kabar bagus tersebut membuat pelaku pasar ceria, dampaknya dolar AS yang dianggap aset aman (safe haven) menjadi kurang menarik dan mulai dilepas.

Seiring dengan membaiknya sentimen pelaku pasar posisi bearish (tren melemah) yang diambil para pelaku pasar untuk mata uang Asia juga semakin berkurang. Hal tersebut terlihat dari survei dua mingguan yang dilakukan Reuters yang menunjukkan para pelaku pasar mulai mengurangi posisi short (jual) terhadap mata uang Asia.

Survei dari Reuters tersebut menggunakan rentang -3 sampai 3. Angka positif berarti pelaku pasar mengambil posisi beli (long) terhadap dolar AS dan jual (short) terhadap mata uang Asia, begitu juga sebaliknya.

Hasil survei terbaru yang dirilis Kamis (16/4/2020) kemarin menunjukkan berkurangnya posisi long dolar AS yang tercermin dari menurunnya angka survei dari Reuters tersebut. Penurunan posisi long dolar berarti penurunan posisi bearish mata uang Asia.

Rupiah (IDR) sebagai contoh, angka terbaru dalam survei tersebut sebesar 0,86, turun jauh dari rilis sebelumnya 2 April sebesar 1,55, dan yang tertinggi pada survei yang dirilis 19 Maret sebesar 1,57.

Semakin rendahnya angkat positif di hasil survei tersebut menunjukkan pelaku pasar semakin menurunkan posisi long dolar AS, yang berarti perlahan-lahan rupiah kembali diburu pelaku pasar.

Analis yang disurvei Reuters mengatakan turunnya posisi long dolar AS terhadap mata uang Asia sejalan dengan langkah bank sentral menyuntikkan likuiditas ke perekonomian sehingga menstabilkan pasar keuangan, kemudian adanya peluang pandemi COVID-19 sudah mencapai puncaknya.

Reuters juga melaporkan rupiah merupakan mata uang favorit pelaku pasar untuk melakukan carry trade, sehingga saat sentimen pelaku pasar membaik, rupiah akan menerima aliran modal asing yang membuatnya perkasa.

Carry trade merupakan strategi investasi dengan meminjam modal di negara yang suku bunganya rendah, kemudian diinvestasikan di negara dengan suku bunga yang tinggi.

Sebelum bulan Maret, hasil survei Reuters tersebut selalu menunjukkan angka minus (-) yang berarti pelaku pasar mengambil posisi short dolar AS dan long rupiah. Ketika itu rupiah masih membukukan penguatan secara year-to-date (YTD) melawan dolar AS.

Di bulan Januari, rupiah bahkan menjadi mata uang dengan kinerja terbaik dunia dengan penguatan terbesar. Saat itu bahkan tidak banyak mata uang yang mampu menguat melawan dolar AS. Hal tersebut juga sesuai dengan survei Reuters pada 23 Januari dengan hasil -0,86, yang artinya pelaku pasar beli rupiah.

Rupiah bahkan disebut menjadi kesayangan pelaku pasar oleh analis dari Bank of Amerika Merryl Lycnh (BAML) saat itu.

“Salah satu mata uang yang saya sukai adalah rupiah, yang pastinya menjadi ‘kesayangan’ pasar, dan ada banyak alasan untuk itu,” kata Rohit Garg, analis BAML dalam sebuah wawancara dengan CNBC International Selasa (21/1/2020).

Sumber : TIM RISET CNBC INDONESIA (pap/pap)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Umpan Berita