by

Kisah Manusia Agung Nabi Besar Muhammad ﷺ

NarasiNews. – Memburu Rasulullah
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِ مُحَمد
Di Mekah, musyrikin Quraisy tampak panik.
Para pembesar berkumpul sepagi mungkin.
Dengan segera, pasukan berkuda disebar kebeberapa perkampungan seputar Mekah, untuk mencari Rasulullah.

“Mengapa Muhammad bisa lolos?
Bukankah kita telah mengepung begitu rapat sampai tidak seekor ular gurun pun dapat lolos?”
Teriak seorang pembesar.

Semua orang terdiam.
Mereka berusaha mencari jawabannya.
Namun, tidak seorangpun bisa menjelaskan apa yang terjadi.

“Sudahlah, itu tidak penting!” akhirnya seseorang berseru.

“Sekarang yang paling mendesak adalah menemukan Muhammad secepat mungkin! Ada yang punya usul?”

“Panggil pencari jejak paling ahli! Suruh dia melacak jejak Muhammad!”

Usul itu segera dijalankan.
Pencari jejak yang amat ahli itu mengikuti jejak yang ditinggalkan Rasulullah SAW.
Pasukan bersenjata lengkap mengikuti dibelakangnya dengan wajah tidak sabar.
Sebagian besar dari mereka adalah para pemuda yang semalam ditugaskan menyergap Rasulullah SAW.

Setelah bekerja dengan teliti, pencari jejak itu menarik napas sambil menggeleng, “Jejaknya sudah terhapus oleh orang yang lalu lalang tadi pagi!”

“Gawat!”
Hemas seseorang.
“Apa kau punya usul lain, pencari jejak?”

“Siapa sahabatnya? Kita bisa bertanya kepada sahabat Muhammad yang paling dekat!”

Orang Quraisy saling pandang dan serempak bergumam, “Abu Bakar!”

Dipimpin Abu Jahal, pasukan pencari itu tiba dirumah Abu Bakar.
Asma binti Abu Bakarlah yang keluar membukakan pintu.

“Dimana bapakmu?”
Bentak Abu Jahal.

“Dia pergi dan saya tidak tahu kemana perginya,”
Jawab Asma dengan berani.

“Jangan berdusta!
Katakan kemana perginya?”

“Saya tidak tahu!
Dirumah hanya ada ibu dan saudari saya.”

“Ah, terlalu!”
Sambil bersungut, Abu Jahal menampar wajah Asma keras2.

#SarangLaba2
Ketika mereka keluar kota dan menjajaki beberapa jalan, sang pencari jejak menemukan jejak mencurigakan.
Kemudian, 1 kelompok pasukan berkuda mengikuti jejak itu sampai tiba di kaki Gunung Tsur.
Namun, disitu jejak terputus.
Mereka kebingungan.

“Kemana arah kita?
Ke kanan atau ke kiri?”
Tanya komandan pasukan.
“Apakah Muhammad masuk kedalam gua itu atau terus mendaki kepuncak?”

“Aku tidak tahu,”
Geleng si Pencari Jejak.

Namun, lewatlah seorang gembala dan mereka menanyainya.

“Mungkin saja mereka kedalam gua itu,”
Jawab sang gembala.

“Tapi aku tidak melihat ada orang yang menuju kesana.”

Didalam gua, keringat dingin Abu Bakar RA keluar, ketika mendengarnya,

“Bagaimana kalau mereka sampai masuk kedalam sini?
Bukan keselamtanku yang aku khawatirkan, melainkan keselamatan Rasulullah SAW!”
Kata Abu Bakar dalam hati.

Beberapa pemuda naik dan melongok-longok kemulut gua.
Jantung Abu Bakar RA hampir lepas.
Ia berbisik, “Ya Rasulullah SAW, kalau ada yang menengok kebawah, pasti kita akan terlihat.”

Rasulullah SAW menjawab mantap, “jangan takut Abu Bakar, sesungguhnya ALLAH SWT bersama kita.”

Para pemuda itu turun, kembali kepasukannya.

“Mengapa kalian tidak masuk kedalam gua?”
Tanya komandan mereka dingin.

“Gua itu tertutup sarang laba2!
Tidak mungkin Muhammad masuk kedalam tanpa merusaknya!”

“Lagi pula ada 2 ekor merpati hutan bersarang tepat dimulut gua!”
Lapor yang lain.
“Jika Muhammad masuk kedalam, sarang itu juga pasti akan rusak.”

Komandan pasukan mengalihkan mukanya kearah lain sambil menghela napas, “Baiklah, naik kudamu! Kita cari kearah lain!”
Pasukanpun menjauh.

Sarang laba2 dan burung merpati yang menutupi gua itu adalah pertolongan yang diberikan ALLAH SWT.
Padahal sebelum Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA masuk, tidak ada laba2 dan burung merpati yang bersarang.

Selain laba2 dan burung merpati, dimulut gua juga mendadak tumbuh sebatang pohon yang menghalangi sebagian jalan masuk.

Didalam, Abu Bakar menarik napas lega.
KeImanannya kepada ALLAH SWT dan Rasul-NYA semakin bertambah kuat.

#PerjuanganAnakMuda
Abdullah bin Abu Bakar dan saudarinya, Asma binti Abu Bakar, masih muda ketika mereka membantu hijrah Rasulullah SAW dan bapak mereka.
Abdullah bertugas mencari berita ditengah kaum Quraisy, sedangkan Asma mengirimkan makanan ke gua.
Itulah ciri khas para pemuda Muslim sepanjang zaman.
Mereka tidak hanya tekun beribadah ritual, tetapi juga mengerahkan seluruh kesanggupanya untuk berjuang.

#MenenteramkanKakek
Abu Quhafah adalah ayah Abu Bakar.
Dia buta.
Setelah Abu Bakar hijrah, Abu Quhafah mendatangi Asma.
Sang kakek khawatir Abu Bakar RA tidak meninggalkan sepeserpun untuk putrinya.

Memang demikian, karena Abu Bakar RA membawa semua uangnya untuk perjuangan Islam di Madinah.

Asma membungkus batu dan berkata, bapak telah meninggalkan banyak uang untuk kami.
Abu Quhafah meraba batu itu dan hatinya tentram karena ia menyangka Abu Bakar RA memang meninggalkan uang yang banyak.

#MenujuYatsrib
3 hari 3 malam lamanya, Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA tinggal di Gua Tsur.
Selama 3 hari itu pula, musyrikin Quraisy kelabakan.
Abdullah bin Abu Bakar menjalankan tugasnya dengan sangat baik.
Setiap hari ia memata-matai pembicaraan orang Quraisy dan menyampaikan ke Gua Tsur ketika petang tiba.
Asma binti Abu Bakar setiap sore mengantarkan makanan bersama Abdullah. Sementara itu, Amir bin Fuhairah yang menggembalakan kambing diluar Gua Tsur selalu memerah susu kambing agar Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA tidak kehausan sekaligus memberi tahu jika ada orang yang mendekat.
Ketiga orang itu menjalankan tugasnya dengan tenang sehingga tidak satupun orang Quraisy yang mencurigai gerak-gerik mereka.

Setelah 3 hari, kepanikan di kota Mekkah sudah agak mereda.
Saat itulah Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA berangkat ke Madinah.
Mereka diiringi Abdullah bin Uraiqith, seorang penunjuk jalan yang saat itu masih kafir.
Ketika akan berangkat, ternyata tidak ada tali yang dapat digunakan untuk menggantungkan makanan dan minuman dipelana unta.
Asma memecahkan masalah itu.
Dengan sigap ia merobek sabuknya menjadi 2 helai kain panjang.
Sejak saat itu, Asma dikenal dengan Dzatun Nithaqain (yang bersabuk dua).

Dengan cerdik Rasulullah SAW memilih jalan yang sulit dan tidak bisa dilalui orang.
Beliau SAW memilih jalan memutar ke tepi laut.
Mereka berusaha secepatnya menjauhi Mekkah dan menghindari daerah pemukiman.

Di Mekkah orang ribut mendengar sebuah pengumuman yang sangat menarik,
“Siapapun yang dapat menemukan Muhammad dan membawanya sampai ke Mekkah, akan mendapat hadiah 100 ekor unta.”

Dengan cepat, berita itu menyebar sampai ke dusun2 yang jauh.
Suraqah bin Malik, kepala kabilah Bani Mudlij, turut mendengar berita itu.

Suatu saat, ia didatangi seorang anggota kabilahnya yang datang tergopoh-gopoh.

“Tuan, tadi saya melihat dari jauh ada beberapa unta lewat di tepi pantai.
Mungkin itulah Muhammad!”

“Bukan, itu orang lain!”
Kata Suraqah.

Namun, setelah berkata begitu, Suraqah cepat2 pulang dan mengambil senjata lengkap.
Ia pacu kudanya kearah yang ditunjukkan orang tadi.

Ternyata yang diburu Suraqah memang benar rombongan Rasulullah SAW.

#SuraqahbinMalik
Dengan cepat, Suraqah telah berada dibelakang rombongan Rasulullah SAW.
Abu Bakar RA yang selalu waspada menoleh dan melihat musuh mendekat,
“Ya Rasulullah SAW, ada orang mengejar kita!
Kita tentu akan tertangkap!”

Namun, Rasulullah SAW tetap tenang.
Tanpa menoleh kebelakang, Beliau SAW bersabda:
“Tenanglah sahabatKu, jangan bersusah hati.
Sesungguhnya ALLAH SWT bersama kita.”

Kemudian, Rasulullah SAW berdoa:
“Ya ALLAJ, cukupkanlah Kami akan dia (Suraqah) sekehendak ENGKAU.”

Saat itu juga, kuda Suraqah tergelincir dan penunggangnya terpelanting. Suraqah terdiam sejenak.
Ia merasa ada yang tidak beres.
Suraqah pun memaksa kudanya bangkit dan mengejar lagi.

Dengan keras kepala, Suraqah memaksa berdiri kudanya yang hampir tidak mampu bangkit.
Ia lalu kembali mengejar.
Untuk ketiga kalinya, namun Suraqah terjatuh lagi.
Saat itu hilanglah niat jahat dalam hatinya.
Ia memanggil Rasulullah SSW.

Beliau SAW pun berhenti dan membiarkan Suraqah mendekat.

“Maafkan saya, beribu-ribu maaf!”
Kata Suraqah.

“Jangan Engkau balas perbuatan saya, wahai Muhammad!
Berilah saya sebuah surat jaminan bahwa Engkau tidak akan membalas saya saat Engkau dan agamaMu kelak telah menguasai seluruh jazirah Arab.”

Rasulullah SAW tersenyum dan mengabulkannya.

“Tahukah Anda bahwa orang2 Quraisy menjanjikan 100 ekor unta bagi siapapun yang dapat membawaMu kembali”
Ucap Suraqah.

Rasulullah SAW kembali tersenyum menyejukkan hati.

Dengan penuh semangat, Suraqah menawarkan bekal dan peralatan untuk perjalanan jauh.
Namun, Rasulullah SAW menolaknya dengan halus.
Beliau SAW hanya berpesan agar Suraqah merahasiakan pertemuan ini.

Sebelum kembali berangkat, Rasulullah SAW bersabda:
“Ya Suraqah, suatu saat kelak engkau akan berpakaian dan memakai perhiasan, gelang, serta emas yang biasa dipakai Raja2 Persia.”

Dengan hati dipenuhi rasa bahagia, Suraqah memandang wajah Rasulullah SAW yang pergi menjauh.

#MemerahSusu
Tidak lama kemudian, rombongan Rasulullah SAW melewati kemah seorang ibu yang bernama Ummu Ma’bad.
Mereka pun berhenti untuk membeli kurma, daging, dan susu.
Tempat seperti itu memang biasa menyediakan perbekalan untuk para musyafir yang lewat.
Namun sayang, apa yang mereka inginkan ternyata sudah habis.
Ummu Ma’bad yang baik hati merasa iba.

“Demi ALLAH, seandainya ada sesuatu yang Tuan2 butuhkan, silahkan mengambilnya, Tuan2 tidak perlu membayar.”

Rasulullah SAW melihat kambing kurus dan bertanya,
“Bagaimana keadaan kambing itu, Ummu Ma’bad?
Apakah ia bisa mengeluarkan susu?”

“Kambing itu adalah kambing yang sakit2an Tuan.
Ia sama sekali tidak menghasilkan susu.”

“Apakah engkau memperkenankan Saya memerah susunya?
Tanya Rasulullah SAW lagi.

“Silahkan jika memang Tuan mengira ia dapat menghasilkan susu.”

Dengan izin ALLAH SWT, kambing sakit2an itu menghasilkan susu ketika Rasulullah SAW memerahnya.
Susu itu Beliau SAW berikan kepada Abu Bakar RA, lalu Abdullah bin Uraiqith, dan terakhir untuk Beliau SAW sendiri.
Sesudah itu, Beliau SAW memerahkan susu untuk Ummu Ma’bad.
Dan, Beliau SAW memerahkan segelas lagi untuk suami Ummu Ma’bad.

“Ambillah ini 1 gelas buat Abu Ma’bad jika nanti ia datang.”

Setelah itu, Rasulullah SAW dan rombongannyapun meneruskan perjalanan.
Sesudah matahari terbenam, datanglah Abu Ma’bad.
Melihat segelas susu telah disediakan untuknya, ia keheranan dan bertanya pada istrinya, darimana segelas susu ini Ummu Ma’bad?”

“Ini dari kambing kita yang sakit2an.”

Kemudian Ummu Ma’bad bercerita panjang lebar.
Abu Ma’bad segera keluar dan memerah susu kambing yang kurus itu.

Ternyata sejak saat itu sampai mati kambing kurus itu selalu menghasilkan banyak susu.

Abu Ma’bad berkata kepada istrinya,
“Sungguh, saya bercita-cita apabila kelak saya dapat berjumpa dengan Orang yang kau ceritakan itu, saya hendak menjadi pengikut dan sahabatnya.”

#Buraidah
Tidak hanya Suraqah bin Malik yang mengincar hadiah 100 ekor unta.
Pemimpin Kabilah Banu Sahmin yang bernama Buraidah bin Al Hasib Al Aslami juga keluar mencari Beliau SAW.
Ia memimpin 70 orang prajurit dan menyusuri jalan2 kearah Yatsrib.
Disuatu tempat, tiba2 saja secara kebetulan mereka bertemu rombongan Rasulullah SAW.

“Kepung!”
Perintah Buraidah.
Beberapa detik kemudian, 70 pedang, tombak, dan panah mengurung Rasulullah SAW dan memaksa Beliau SAW berhenti.
Buraidah menegur Rasulullah SAW.
Beliau SAW pun menjawabnya.
Kemudian, sebelum Buraidah sempat bertanya lagi, Rasulullah mendahuluinya, “Siapa Anda?”

“Saya Buraidah bin Al Hasib.”

Dengan tenang Rasulullah berkata kepada Abu Bakar, “Mudah2an suasana mencekam ini kembali menjadi lebih baik.”

Kemudian, Beliau SAW memandang kembali Buraidah dan bertanya, “Dari keturunan siapa Anda?”

“Dari desa Aslam, keturunan Sahmin.”

Kembali Rasulullah SAW memalingkan wajahnya ke Abu Bakar RA dan berkata, “Kita telah selamat dan keluar dari jangkauan panah mereka.”

“Siapakah Engkau?” Kali ini Buraidah yang bertanya.

“Saya Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muttalib.”

Dengan kehendak ALLAH SWT, saat itu juga Buraidah mengucapkan 2 kalimat syahadat dan memeluk Islam.

Melihat pemimpin mereka memeluk Islam, 70 orang pasukan pengepungpun mengikuti jejaknya.

Setelah itu, Buraidah dan pasukannya mengawal rombongan Rasulullah SAW sampai keluar dari wilayah mereka.

Dalam situasi diburu dan dikejarpun, Rasulullah SAW tetap mampu mengumpulkan pengikut, berkat ketenangan, kekuatan Iman, dan pertolongan ALLAH SWT.

#PenyebaranIslamdiYatsrib
Pesatnya perkembangan Islam di Yatsrib tidak lepas dari jasa Mush’ab bin Umair yang diutus Rasulullah ke Yatsrib untuk mengajarkan Islam.
Mush’ab yang cerdas dan berhati lembut mampu membuat orang yang memusuhinya menjadi kawan.

Berikut ini adalah salah satu kisah kecemerlangan dakwah Mush’ab bin Umair.

Jauh sebelum Rasulullah SAW dan kaum Muslimin Mekkah berhijrah, di Yatsrib, Mush’ab bin Umair sedang mengajarkan Islam kepada sekelompok orang dikebun Bani Zafar.
Sa’ad bin Muadz tidak senang mendengar berita ini.
Ia lalu mendatangi Usaid bin Hudhair. Kedua orang ini adalah para pemimpin kaumnya.

“Usaid temui orang Mekkah itu.
Dia datang kedaerah kita dan mengajarkan agama baru kepada orang2 kita.
Agama itu bisa membuat orang lemah dan miskin bangkit melawan kita.”

Mendengar itu, Usaid pergi menjinjing tombak ke kebun Bani Zafar.
Ditegurnya Mush’ab bin Umair dengan tombak teracung.
Namun, Mush’ab berkata tenang, “Maukah kau duduk dulu dan mendengarkan?
Kalau kau tidak menyukainya, aku bersedia pergi dari sini.”

Usaid berpikir sejenak, “Baiklah, itu cukup adil.”

Kemudian, ia duduk dan mendengarkan Mush’ab.
Semakin lama, hati Usaid makin tertarik.
Akhirnya, ia memeluk Islam saat itu juga.
Setelah itu, ia menemui Sa’ad bin Muadz.

“Apa?
Jadi sekarang justru engkau ikut memeluk agama baru itu?”
Teriak Sa’ad marah.

Ia pun bergegas menemui Mush’ab sambil menyandang pedangnya.
Namun, apa yang terjadi pada Usaid, terjadi pula pada Sa’ad.
Begitu mendengar penjelasan Mush’ab tentang Islam, ia begitu tertarik sehingga menjadi Muslim saat itu juga.

Setelah itu, tanpa membuang waktu, ia pergi menemui kaumnya dan berseru, “Hai Banu Abdul Asyhal, apa yang kalian ketahui tentang diriku?”

“Engkau adalah pemimpin kami, yang paling dekat dengan kami, engkau punya pendapat dan pengalaman yang terpuji.”

Maka kata2mu, baik wanita maupun pria, bagiku adalah suci selama kalian beriman kepada ALLAH SWT dan utusan-NYA,” demikian seru Sa’ad bin Muadz.

Sejak saat itu, seluruh suku Abdul Asysal memeluk Islam.

#AmrbinJamuh
Keberanian kaum Muslimin di Yatsrib benar2 diluar dugaan kaum Muslimin di Mekkah.
Para pemuda disana dengan sangat berani mempermainkan berhala2 orang2 yang masih musyrik.

Amr bin Jamuh adalah seorang bangsawan dari Banu Salamah.
Ia mempunyai sebuah berhala bernama Manat yang terbuat dari kayu.
Setelah itu para pemuda dari Banu Salamah masuk Islam, diam2 mereka mengambil Manat pada malam hari dan memasukkan berhala kayu itu kedalam lubang penuh lumpur.

“Manat!
Kemana Tuhanku itu?”
Seru Amr bin Jamuh. Pagi2 sekali, ia sudah datang ketempat penyembahan dan kebingungan mencari Manat yang hilang.
Setelah mencari kesana kemari, ia menemukan Manat tersuruk ditempat yang sangat kotor.

Amr segera mengambil, mencuci, dan membersihkan tuhannya itu sampai bersih dan meletakkannya lagi ditempat semula.

“Siapa yang berani mengganggu Manat, akan kutebas lehernya!”
Ancam Amr bin Jamuh kepada orang2 disekitarnya.

Namun, pada malam harinya para pemuda Muslim kembali mengambil dan memasukkan Manat kelubang yang kotor dan berlumpur.
Sambil menuduh-nuduh dan memgancam-ancam, Amr bin Jamuh kembali mencuci dan membersihkan tuhannya.

Begitulah terjadi berkali-kali sampai akhirnya rasa kesal Amr bin Jamuh berbalik pada Manat.
Amr mengalungkan pedang pada Manat sambil berkata pada tuhannya itu, “Kalau kau memang berguna, bertahanlah!
Kusertakan pedang ini bersamamu!”

Keesokan harinya, Amr sudah kembali kehilangan Manat.
Ia menemukan tuhannya itu didalam sumur bersama bangkai seekor anjing.
Sementara itu, pedangnya hilang.

“Mengapa kau tidak membela dirimu?
Mengapa kau biarkan dirimu terhina?”
Keluh Amr tidak berdaya.

Beberapa orang pemuka masyarakat yang sudah memeluk Islam mendekati Amr dan memgajaknya berbicara.
Saat itu, sadarlah Amr bin Jamuh betapa sesatnya ia selama ini.
Setelah itu, tanpa ragu lagi ia memeluk Islam dan menjadi Muslim yang taat.

#RasulullahSAWTibadiQuba
Kaum Muslimin di Yatsrib sudah mendengar bahwa Rasulullah SAW telah meninggalkan Mekkah.

Oleh sebab itu mereka menanti-nanti dan berharap-harap kedatangan Beliau SAW.

Bahkan beberapa dari mereka pergi ke Quba, suatu kampung yang letaknya beberapa mil dari Yatsrib untuk menyambut Rasulullah SAW.

Setiap pagi mereka pergi bersama-sama ketempat itu.

Jika sampai siang Rasulullah SAW belum datang, mereka pergi dan berteduh sebentar ditempat lain.

Ketika petang tiba, dan Rasulullah SAW belum juga tiba, mereka pulang ke Yatsrib.
Begitu terus setiap hari.

Rasulullah SAW dan rombongan memang masih agak jauh dari Yatsrib.

Suatu hari ketika panas matahari tengah begitu terik, Rasulullah SAW tiba di Quba.

Saat itu, penduduk Quba juga sudah banyak yang memeluk Islam.

Mereka juga tengah menanti-nanti kedatangan Rasulullah SAW.

Namun, tidak seorangpun yang sudah mengenal wajah Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA.

Oleh sebab itu, ketika Beliau SAW dan Abu Bakar RA berteduh dibawah pohon kurma, tidak seorangpun yang datang menyambut.

Sampai akhirnya, lewatlah seorang Yahudi yang mengetahui Rasulullah SAW dan Abu Bakar RA yang tengah berteduh itu.

Yahudi itu segera naik ketempat yang tinggi dan berteriak sekeras-kerasnya,

“Hai orang2 Arab!
Itulah orang yang kamu harap2 dan kamu nanti2 kedatangannya!
Ia telah berada disini!
Ia telah datang!”

Demikian teriak orang Yahudi itu berulang-ulang.

Orang2 Quba datang berduyun-duyun ketempat Rasulullah SAW berteduh.

Ketika tiba, mereka memberi hormat kepada Abu Bakar RA.
Melihat itu, Abu Bakar RA segera membuka selendangnya dan meneduhi Rasulullah SAW.

Barulah orang2 sadar bahwa mereka telah salah menyalami orang.

Orang2 meminta Rasulullah SAW beristirahat selama beberapa hari di Quba.

Rasulullah SAW pun mengabulkan permintaan itu.

Beliau SAW tinggal dirumah seorang sahabat Anshar bernama Kaltsum bin Hadam.

#KerinduanpadaRasulullahSAW
Banyak penduduk Muslim Yatsrib yang belum melihat Nabi Muhammad SAW.

Kerinduan akan sosok Rasulullah SAW melambung saat menanti kedatangan Beliau SAW.

Mereka ingin bertemu Laki2 yang telah menderita jiwa dan raga dalam berjuang, terusir dari kampung halaman, tetapi tetap bersemangat, percaya diri, kokoh, berhati tulus, dan terus berdakwah, tanpa pernah berhenti.

#HijrahAlibinAbuThalib
Bagaimana dengan Ali bin Abu Thalib, sesuai dengan pesan Rasulullah SAW, setelah mengembalikan barang2 titipan kepada pemiliknya, Ali bin Abu Thalib berangkat hijrah.

Ali pergi mengawal keluarga Rasulullah SAW dan keluarga Abu Bakar RA.

Mereka adalah: Fatimah,
Ummu Kultsum, Saudah,
Ummu Aiman dan anaknya Usamah.

Selain itu juga turut istri Abu Bakar RA, Ummu Ruman dan anak2nya, Aisyah, Asma, dan Abdullah.

Juga ada orang2 Muslim lain yang lemah dan tidak berdaya.

Terbayang dengan jelas betapa beratnya tugas Ali bin Abu Thalib saat berhijrah.

Apalagi mereka semua kekurangan, sehingga Ali bin Abu Thalib harus berjalan kaki menempuh jarak lebih dari 400 kilometer ditengah padang pasir itu.

Selama perjalanan, mereka berhenti dan bersembunyi pada siang hari untuk menghindari kejaran pasukan Quraisy.

Jika malam tiba, barulah mereka berangkat dan meneruskan perjalanan.

Akhirnya, tibalah rombongan hijrah Ali bin Abu Thalib di Quba.

Disana, mereka berjumpa dengan Rasulullah SAW yang masih berada ditempat itu.

Begitu jauh dan beratnya perjalanan, kaki Ali bin Abu Thalib membengkak dan dipenuhi luka disana-sini.

Rasulullah SAW merasa sangat iba kepada sepupunya ini.

Beliau SAW berdoa kepada ALLAH SWT memohon agar ALLAH SWT berkenan menyembuhkan semua luka di kaki Ali dan memulihkan kekuatannya seperti sedia kala.

Dengan kedua tangan Beliau SAW yang mulia itu, Rasulullah SAW mengusap kaki Ali bin Abu Thalib.

ALHAMDULILLAH, segera saja pulihlah semua luka, kempislah bengkak, dan lenyaplah semua rasa sakit dari kaki Ali bin Abu Thalib.

Saat Ali bin Abu Thalib dan orang2 yang dikawalnya tiba di Quba, Rasulullah SAW telah berhenti disana selama lebih dari 10 hari.

Dalam 10 hari itu, Beliau SAW dan para sahabat yang lain telah membangun sebuah Masjid.

Itulah Masjid pertama dalam sejarah Islam.

Didalam Al Qur’an, ALLAH SWT menyebut Masjid itu dengan nama Masjid Taqwa.

Sampai kini, Masjid itu dikenal sebagai Masjid Quba.

#MasjidQuba
Rasulullah SAW adalah orang pertama yang meletakkan batu untuk mendirikan Masjid Quba.

Setelah itu, Beliau SAW menyuruh Abu Bakar RA lalu Umar bin Khattab RA dan setelahnya Utsman bin Affan RA.

Ammar bin Yasir adalah orang yang pertama kali membangun temboknya.

Kemudian, para sahabat Muhajirin dan Anshar membangunnya bersama-sama.

Begitu masjid selesai kaum Muslimin di Quba menyangka Rasulullah SAW akan tinggal di Quba lebih lama lagi.

Namun, ALLAH SWT memerintahkan Rasulullah SAW untuk berangkat ke Yatsrib.

Begitu mengetahui hal itu, dengan wajah sedih, Kaum Muslimin Quba mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya pelan,
“Ya Rasulullah SAW apakah Anda memang menghendaki rumah yang lebih baik daripada rumah kami?”

Rasulullah SAW mengerti betapa besar rasa sayang kaum Muslimin Quba terhadap dirinya.

Beliau SAW pun menjawab dengan kata2 yang sangat halus,
“Oh tidak begitu, ALLAH SWT memerintahkan Saya berangkat ke Yatsrib.

Karenanya, hendaklah Tuan2 membiarkan unta Saya terus melanjutkan perjalanan.”

Sebelum berangkat, Rasulullah SAW berdiri di Masjid Quba.

Para sahabat berkumpul dihadapan Beliau SAW.

Rasulullah SAW bertanya kepada mereka,
“Apakah Anda sekalian orang2 berIman?”

Semuanya terdiam, tidak seorangpun yang berani menjawab.

Kemudian, Rasulullah SAW bertanya lagi,
“Apakah Anda sekalian orang2 yang berIman?”

Kembali semua orang terdiam kecuali Umar bin Khattab RA.

Saat itu Umar RA menjawab,
“Ya Rasulullah SAW, sesungguhnya mereka semua orang2 berIman dan saya termasuk salah seorang dari mereka.”

Rasulullah bertanya lagi,
“Apakah Anda sekalian percaya pada keputusan ALLAH SWT?”

Kali ini semuanya menjawab, “Ya.”

“Apakah Anda sekalian bersabar akan malapetaka yang menimpa?”

“Ya, ya Rasulullah SAW.”

“Dan apakah Anda sekalian “Bersyukur saat mendapat kebahagiaan?”

“Ya, kami bersyukur ya Rasulullah SAW.”

“Demi Tuhan, kalau begitu Anda sekalian orang2 berIman.”

#MengapaMasjidDibangunLebihDulu?

Masyarakat Islam tidak akan tegak jika tidak ada Masjid.

Oleh karena itu, perbedaan pangkat, kekayaan, kedudukan, dan lainnya akan terhapus jika umat Islam selalu bertemu setiap hari di Masjid untuk menyembah ALLAH SWT.

Masjid juga merupakan tempat berkumpulnya kaum Muslimin untuk mempelajari syariat ALLAH SWT.

#ShalatJumatPertama

Rasulullah SAW berangkat dari Quba pada Jum’at pagi.

Beliau SAW diiringi para sahabat Muhajirin dan Anshar.

Sebagian berkendaraan, sebagian lagi berjalan kaki.

Ketika waktu shalat Jum’at tiba, Rasulullah SAW tengah melewati Wadi Ranuna.

Tempat itu dekat dengan perkampungan Bani Amr bin Auf.

Rasulullah SAW berhenti dan mendirikan shalat Jum’at bersama para sahabatnya.

Itulah shalat Jum’at pertama yang didirikan Rasulullah SAW.

Dalam shalat itu, Rasulullah SAW berkhutbah:
“Wahai seluruh manusia hendaklah kalian mengerjakan amal kebaikan demi kalian sendiri.
Sungguh kalian mengetahui, demi ALLAH, sesungguhnya akan datang suatu hari ketika salah satu dari kalian dikejutkan oleh suara gemuruh, sehingga ia akan melupakan harta apapun yang dimilikinya.

Pada hari itu, ALLAH SWT akan berfirman kepadanya langsung tanpa ada yang menerjemahkan dan menghalang-halangi.
Firman-NYA:
“Tidaklah telah datang seorang Rasul kepadamu lalu ia menyampaikan ajaran kepadamu dan AKU (ALLAH) telah memberikan harta kepadamu serta AKU telah memberikan banyak karunia kepadamu.


Namun, semua itu kamu gunakan untuk dirimu sendiri.”
“Saat itu, ia akan melihat ke kanan dan ke kiri, tetapi tidak melihat apapun.
Namun, ketika melihat ke muka, ia akan menatap Neraka Jahanam.


Siapapun yang dapat menjaga wajahnya dari bahaya api neraka, walaupun dengan separuh kurma, hendaklah ia banyak menyebut kalimat thayyibah karena kalimat thayyibah itu adalah sesuatu yang indah yang akan diberi balasan sampai 700x lipat.


Keselamatan dan rahmat ALLAH SWT serta barokah-NYA semoga dilimpahkan atas kamu dan atas Rasulullah SAW.”

Pada saat shalat Jum’at itu, Rasulullah SAW berkhutbah setelah shalat didirikan.

Baru pada kemudian hari, Rasulullah SAW mengubah cara itu sehingga khutbah dilakukan sebelum shalat Jum’at dilakukan.

Rasulullah SAW pun melanjutkan perjalanan.

Setiap kali melewati sebuah perkampungan, orang2 selalu berebut menawarkan tempat bersinggah dan beristirahat kepada Beliau SAW.

Namun, selalu mengulang jawaban yang sama,
“Biarkanlah unta ini berjalan, sesungguhnya ia diperintah ALLAH SWT agar berhenti ditempat yang dikehendaki-NYA.”

#TibadiMadinah
Kota Yatsrib dipenuhi bermacam perhiasan indah untuk menyambut kedatangan Rasulullah SAW.

Ketika Beliau SAW tiba, seluruh kaum Muslimin perempuan dan laki2, anak2 dan budak belian, keluar rumah untuk menyambut kedatangan Rasulullah SAW yang telah lama mereka nantikan.

Anak2 lelaki dan para budak laki2 ramai2 berbaris dijalan seraya bersorak,
“Telah datang Muhammad SAW! Telah datang Rasulullah SAW!
Ya Muhammad SAW!
Ya Rasulullah SAW!”
Para pemuda dan laki2 dewasa menghunus pedang dan tombak sebagai tanda siap mati membela Rasulullah SAW.

Kaum Muslimin yang mengiringi Rasulullah SAW dari Quba berseru bersama,
“Telah datang Nabi ALLAH SWT!
Telah datang Nabi ALLAH SWT!
Telah datang Nabi ALLAH SWT!”

Sementara itu, anak2 perempuan naik keatas rumah seraya bersama membaca syair,

“Kami anak2 perempuan keturunan Najjar, hai orang yang cinta bertetangga dengan Nabi Muhammad SAW!”

Mendengar sambutan yang begitu hangat dan penuh sayang itu, Rasulullah SAW bertanya,
“Apakah kalian semua cinta kepadaKu?”

“Ya, sudah tentu ya Rasulullah SAW!”
Jawab semuanya.

Dengan hati bergetar penuh kasih, Rasulullah SAW bersabda:
“ALLAH SWT mengetahui bahwa hatiKu sangat mencintai kalian semua.”

Ada orang yang menangis, ada juga orang yang tersenyum saat mendengar pernyataan cinta dari Rasulullah SAW yang begitu mulia, yang begitu mereka cintai, dan yang begitu mereka rindukan.

Maka rebana2pun berbunyi dan kaum wanita berpantun.
طلع البدر علينا ¤ من ثنية الوداع
Thola’al badru ‘alaynâ min tsaniyyatil wadâ’i
وجب الشکر علينا ¤ ما دعا لله داع
Wajabasy-syukru ‘alaynâ mâ da’â lillâhi dâ’î
أيها المبعوث فينا ¤ جئت بالأمر المطاع
Ayyuhâl mab’ûtsu fînâ ji’ta bil amril muthô’i
Artinya:
Telah terbit purnama diatas kita.
Dari kampung Tsaniyyatil Wada.
Wajiblah kita bersyukur akan apa yang diserukan penyeru.
Duhai orang yang diutus kepada kami. Engkau datang dengan perintah yang ditaati.

Demikian seterusnya, pantun2 kehormatan diucapkan oleh kaum Muslimin laki2 dan perempuan ketika mereka menyambut kedatangan Rasulullah SAW.

Itu adalah suatu saat yang amat membahagiakan dan tidak akan pernah terulang lagi dalam sejarah, suatu penyambutan yang begitu tulus dan penuh cinta.

#MuhajirinyangPertama
Abu Salamah bin Abdul Asad adalah Muhajirin yang pertama tiba di Madinah.

Setelah itu, menyusul Amir bin Rabi’ah bersama istrinya, Laila binti Abi Hasymah.
Dialah wanita Muhajirin yang pertama tiba di Madinah.(Net)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Umpan Berita