by

Mengapa Utsman tetap menolak memerangi kaum-kaum yang mengepungnya di rumahnya?

NarasiNews. – Selama ini yang menjadi pertanyaan besar para ahli sejarah adalah sikap Utsman ketika terjadi peristiwa kekacauan yang akhirnya membuat beliau syahid.

Mengapa Utsman tetap menolak memerangi kaum-kaum yang mengepungnya di rumahnya?

Mengapa Utsman juga menolak turun dari jabatannya sesuai dengan tuntutan para pengacau tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena mengingat Utsman bin Affan waktu itu merupakan penguasa Jazirah Arab, Eropa hingga Afrika maka tentunya tidak ada kesulitan bagi beliau untuk memerangi kaum pengacau itu

Mengingat juga bahwa Madinah waktu itu masih dipenuhi para Sahabat yang sangat layak untuk diserahi jabatan khalifah oleh Utsman

Mari kita telaah hadits-hadits dari Nabi ﷺ terkait hal ini.

Abdullah bin Hawalah meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda “Barangsiapa yang selamat dari tiga hal, maka sesungguhnya dia selamat, tiga hal itu adalah kematianku, Dajjal dan pembunuhan terhadap khalifah yang sabar dengan kebenaran dan menyampaikannya” (Al-Musnad-4/419)

Ibnu Umar mengatakan, Rasulullahﷺ menceritakan suatu fitnah, lalu kemudian seseorang lewat, lalu Nabi bersabda “Orang yang tertutup wajahnya ini terbunuh secara zhalim dalam fitnah itu” Ibnu Umar mengatakan, kemudian aku memperhatikan orang yang lewat tersebut, ternyata dia adalah Utsman bin Affan Radhiyallahu anhum

Ka’ab bin Ujrah berkata, “Rasulullah ﷺ menyebut suatu fitnah dan kedekatannya. Lalu kemudian seseorang yang tertutup kepalanya lewat. Lalu beliau bersabda “Orang ini ketika hari itu berada di atas petunjuk” Aku pun meloncat dan memegang kedua lengan Utsman. Kemudian aku menghadap Rasulullah ﷺ dan bertanya “Orang ini (Utsman) ya Rasulullah??”” Beliau bersabda, “Ya” (Sunan Ibnu Majah 1/24)

Dari Abu Habibah menceritakan ketika dia bersama Abu Hurairah memasuki rumah dimana Utsman dikepung dan dia mendengar Abu Hurairah meminta izin kepada Utsman untuk berbicara. Utsman memberikan izin. Abu Hurairah lantas berdiri, memuji Allah dan berkata, “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda “Sesungguhnya kalian akan menemui fitnah dan perselisihan setelahku. “ Salah seorang bertanya, “Dengan siapakah kami harus ikut wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “Ikutilah Al-Amin dan para sahabatnya.” Beliau sambil menunjuk ke arah Utsman. (Fadha’il Ash-Shahabah)

Dari ‘Aisyah bahwa ia berkata “Rasulullah ﷺ mengutus utusan kepada Utsman bin Affan. Ketika Utsman datang, Rasulullah ﷺ menyambutnya. Perkataan terakhir Rasulullah ﷺ ketika menepuk dua pundak Utsman adalah “Wahai Utsman, sesungguhnya mudah-mudahan Allah memberikan baju kepadamu. Jika orang-orang munafik ingin melepaskannya darimu, maka janganlah kamu melepaskannya hingga kamu bertemu denganku” (Musnad Ahmad, no 24045)

Aisyah Rasulullah ﷺ bersabda, “Panggilkanlah sebagian sahabatku.” Aku bertanya, Abu Bakar?” Beliau bersabda “Tidak.” Aku berkata “Utsman?” Beliau bersabda “Ya”. Ketika Utsman datang Rasulullah berkata kepadaku “Menyingkirlah.” Lantas Rasulullah berbicara secara rahasia kepada Utsman dan Utsman pun berubah raut wajahnya. (Fadha’il Ash-Shahabah)

Maka cukuplah riwayat-riwayat hadits dapat disimpulkan apa yang membuat Utsman bin Affan bertahan dan bersabar ketika keadaan di Madinah semakin memburuk.

Yang pertama adalah kesabaran. Rasulullah telah mengabarkan kepada Utsman perkara-perkara yang berkaitan dengan kekacauan yang berakhir pembunuhan terhadap dirinya. Perkara-perkara ini masih menjadi rahasia dan hanya seorang Utsman bin Affan yang mengetahui.

Ini terungkap ketika Utsman ditanya ketika terjadi kekacauan, “kenapa anda tidak memerangi mereka?” Utsman menjawab, “Tidak, sesungguhnya Rasulullah ﷺ berpesan kepadaku suatu pesan dan sesungguhnya aku bersabar atasnya.

Yang kedua adalah Utsman sudah mendapat tips dan trik dari Rasulullah ketika terjadi kekacauan. Suatu pedoman sikap yang benar yang harus dilakukan Utsman ketika itu terjadi dengan tujuan besarnya agar kekacauan itu tidak meluas. Maka dari itu Utsman “ngotot” tidak melepas jabatan khalifah dari tangannya karena berusaha menaati petunjuk dari Nabi tersebut.

Maka sang Dzunnurain Utsman bin Affan pun syahid tetap dalam keadaan iman dan hidayah dan dalam keadaan memenuhi semua saran dari Nabinya sekaligus sahabatnya sekaligus mertua dari kedua istrinya.

“Bukalah dan berilah kabar gembira dengan surga atas suatu musibah yang akan menimpanya” (HR. Al-Bukhari 3695)

Sumber : Biografi Utsman bin Affan
Prof Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi

“Katakanlah. Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman (Al-A’raf:186)

(Net)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Umpan Berita