by

Tradisi Memanjangkan Telinga oleh Suku Dayak

-Serambi-160 views

NarasiNews. – Suku Dayak memiliki banyak anak sukunya dengan berbagai latar belakang budaya dan adat-istiadatnya. Salah satu yg menarik dari suku Dayak ini adalah para wanitanya memiliki daun telinga yang panjang karena beban berat dari giwang yang dikenakan. Konon semakin panjang daun telinganya dianggap semakin cantik wanita itu.

Tradisi yang dikenal sebagai budaya telinga panjang ini tidak dilakukan oleh semua penduduk Suku Dayak. Hanya anak suku tertentu saja yg mengenal kebudayaan telinga panjang ini. Seperti Dayak Punan, Dayak Iban dan Dayak Kaayan. Dayak Kaayan mengenal kebudayaan telinga panjang ini dengan nama telingaan aruu.

Pemasangan anting-anting ini hanya berlaku untuk kalangan bangsawan saja khususnya, suku Dayak Kaayan. Anting dipakai sejak masih bayi, dengan cara menindik telinga. Proses penindikan telinga ini dikenal dengan nama mucuk pening.

Selanjutnya luka bekas tindikan tadi akan mengering dan barulah dipasang benang. Di kemudian hari, benang tadi diganti dengan kayu, sehingga lubang anting semakin lama semakin membesar. Kemudian anting ditambahkan satu-persatu ke telinga. Beban yang terus bertambah berat membuat lubang daun telinga semakin membesar dan telinga terus memanjang. Agar telinga lebih panjang, pada Dayak Kaayan biasanya memberikan pemberat logam berbentuk lingkaran seperti gelang atau berbentuk gasing dengan ukuran yang kecil. Dengan adanya pemberat ini, maka daun telinga akan memanjang hingga beberapa senti meter.

Meskipun Dayak Iban dan Dayak Taman memiliki tradisi memanjangkan telinga namun terdapat perbedaan. Kedua Suku Dayak ini tidak menambahkan pemberat untuk memanjangkan telinga. Pada Dayak Taman pemanjangan telinga tidak hanya dilakukan oleh kaum bangsawan, melainkan pada semua kaum perempuan.

Pemanjangan telinga yg dilakukan oleh perempuan maupun laki-laki ini sebenarnya memiliki suatu tujuan. Misalnya di kalangan Dayak Kaayan, mereka melakukan pemanjangan telinga sebagai identitas kebangsawanannya.
Dan untuk perempuan, pemanjangan telinga digunakan untuk menunjukan identitas kebangsawanan, sekaligus digunakan sebagai pembeda. Sedangkan di desa-desa yg terletak di hulu Sungai Mahakam memanjangkan telinga dengan tujuan yang berbeda. Mereka melakukan pemanjangan telinga untuk menunjukkan umur seseorang.
Bayi yg baru lahir akan diberi manik-manik yg dirasa cukup berat. Selanjutnya, manik-manik yg menempel di telinga tersebut akan terus ditambah setiap tahunnya.

Suku Dayak Iban tidak memberikan pemberat kepada telinganya. Telinga yg telah dilobangi dibiarkan saja hingga terlihat seperti lubang besar yg mirip angka nol dengan cara menyatukan ujung jari telunjuk dengan ujung ibu jari. Bagi Suku Dayak ini, telinga panjang memiliki tujuan lain yaitu untuk melatih kesabaran melalui adanya berat akibat manik-manik yg menempel pada telinga dan harus digunakan setiap hari. Dengan beban berat di telinga, rasa sabar dan penderitaan pun semakin terlatih.

Selain itu, telinga panjang juga menjadi simbol status sosial wanita Suku Dayak. Mereka meyakini bahwa semakin panjang telinga seorang wanita, maka semakin cantik pulalah wanita tersebut.

Tradisi unik telinga panjang ini kini sudah semakin ditinggalkan. Hanya sebagian kecil warga Suku Dayak yg masih menerapkannya. Rata-rata mereka adalah generasi tua yang telah berusia di atas 60 tahun. Bahkan, sebagian penduduk yg dulunya bertelinga panjang secara sengaja memotong ujung daun telinganya. Alasannya adalah karena dianggap ketinggalan zaman. Mereka juga khawatir anak-anaknya merasa malu jika mereka tetap mempertahankan telinga panjang tersebut.

Menurut antropolog Mering Ngo, saat ini sudah tidak ada lagi generasi muda yg meneruskan kebudayaan telinga panjang ini, bahkan untuk daerah pedalaman Kalimantan. Ada beberapa hal yang berpengaruh dengan mulai punahnya kebudayaan ini :

  • Pertama, memang tak semua anak suku Dayak melakukan tradisi ini. Hanya pada Dayak Kaayan, Iban dan Taman saja. Itupun terbatas kepada kaum wanita dan kaum bangsawan. Selain itu, tradisi ini juga hanya berlaku untuk daerah pedalaman saja.
  • Kedua, munculnya anggapan ketinggalan jaman membuat orang-orang yg aslinya memanjangkan telinga secara sengaja berusaha menghilangkan atribut tersebut. Seperti dengan memotong bagian bawah daun telinganya.

Bagi para pemerhati budaya dan sejarah, tradisi telinga panjang sudah sampai pada tahap kritis, karena tidak ada lagi penerusnya. ( Sejarah )

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Umpan Berita