by

Tujuan Pernikahan dalam Islam

-Serambi-153 views

NarasiNews✍ – Pernikahan adalah ibadah yang agung. Sunnahnya para nabi dan rasul. Dan amalan orang-orang shaleh sebelum kita. Dan pernikahan akan semakin bertambah nilainya. Semakin mendapat banyak keberkahan dan kemudahan dalam menjalankannya, kalau kita hadirkan di hati kita niat yang dituntunkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

✍ Di antara niat pernikahan, antara lain hendaknya kita hadirkan :

👉 Pertama: Untuk memenuhi tuntutan naluri manusia yang asasi.
Pernikahan adalah fitrah manusia, maka jalan yang sah untuk memenuhi kebutuhan biologis ini adalah dengan ‘aqad nikah’ (melalui jenjang pernikahan), bukan dengan cara yang amat kotor dan dan tidak bermoral, dengan kumpul kebo, berhubungan badan tanpa aqad nikah, dan lain sebagainya yang telah menyimpang dan diharamkan oleh Islam.

👉 Kedua: Untuk membentengi akhlaq yang luhur dan untuk menundukkan pandangan.
Sasaran utama dari disyari’atkannya pernikahan dalam Islam di antaranya adalah untuk membentengi martabat manusia dari perbuatan kotor dan keji, yang dapat merendahkan dan merusak martabat manusia yang luhur. Islam memandang pernikahan dan pembentukan keluarga sebagai sarana efektif untuk memelihara pemuda dan pemudi dari kerusakan, dan melindungi masyarakat dari kekacauan.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ.

“Wahai para pemuda! Barangsiapa di antara kalian berkemampuan untuk menikah, maka menikahlah, karena nikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia shaum (puasa), karena shaum itu dapat membentengi dirinya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).

👉 Ketiga: Untuk menegakkan rumah tangga yang Islami.

✍ Jadi, tujuan yang luhur dari pernikahan adalah agar suami isteri melaksanakan syari’at Islam dalam rumah tangganya. Hukum ditegakkannya rumah tangga berdasarkan syari’at Islam adalah wajib. Oleh karena itu, setiap muslim dan muslimah yang ingin membina rumah tangga yang Islami, maka ajaran Islam telah memberikan beberapa kriteria tentang calon pasangan yang ideal, sebaiknya kufu’, shalih dan shalihah.

✍ Masalah kufu’ (sederajat, sepadan) tidak diukur berdasarkan materi dan harta. Namun pertimbangan agama seharusnya mendapat perhatian yang serius.
Agama Islam sangat memperhatikan kufu’ atau kesamaan, kesepadanan atau sederajat dalam hal pernikahan.
Dengan adanya kesamaan antara kedua suami isteri itu, maka usaha untuk mendirikan dan membina rumah tangga yang Islami insya Allah akan lebih mudah terwujud.
Namun kufu’ menurut Islam harus diukur dengan kualitas iman dan taqwa serta akhlak seseorang, bukan diukur dengan status sosial, keturunan dan lain-lainnya.
Allah ‘Azza wa Jalla memandang derajat seseorang sama, baik itu orang Arab maupun non Arab, miskin atau kaya. Tidak ada perbedaan derajat dari keduanya melainkan derajat taqwanya.

✍ Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti”.
(QS. Al-Hujuraat/49:13).

✍ Bagi mereka yang tidak sekufu, tidak ada halangan bagi keduanya untuk menikah.
Namun wajib bagi para orang tua, pemuda dan pemudi yang masih berorientasi pada hal-hal yang sifatnya materialis dan mempertahankan adat istiadat, untuk meninggalkannya dan kembali kepada Al-Qur-an dan Sunnah Nabi yang shahih, sesuai dengan sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ ِلأَرْبَعٍِ: لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِيْنِهَا، فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّيْنِ تَرِبَتْ يَدَاكَ.

“Seorang wanita dinikahi karena empat hal; karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang taat agamanya (ke-Islamannya), niscaya kamu akan beruntung”.

(HR. al-Bukhari dan Muslim).

[ Mulia Mulyadi ]

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Umpan Berita