by

Zirah Abad Pertengahan di Jawa

-Serambi-138 views

NarasiNews. – Kebetulan ada yang bertanya apakah di era Majapahit baju zirah sudah dikenal pada masa itu dan ternyata bila kita mempelajari sejarah secara seksama dari berbagai sumber dan data sejarah yang ada, hasilnya malah cukup mengejutkan. Di luar bayangan dan pemahaman kita, apalagi dalam berbagai budaya populer seperti sinema, sinetron, atau karya lainnya yang sering menggambarkan bila pasukan Majapahit sering digambarkan bertelanjang dada ditambahkan lagi cuaca atau iklim Nusantara yang tropis, makam enggunakan zirah akan mustahil ‘.

Perlu diimplementasikan juga, sejarah dan peradaban Nusantara kita ini adalah peradaban dan peradaban yang terwujud dan statis, melainkan dinamis dan tercampur dari banyak peradaban dan kebudayaan, maka hal itu tidak mungkin bila tentara atau pasukan Majapahit di masa lalu yang diberi zirah. Apalagi sejarah telah mencatat peristiwa peristiwa penyerbuan yang lumayan masif dari tentara Mongol (Dinasti Yuan) ke pulau Jawa pada tahun 1293 dengan kekuatan armada kisaran 20.000 – 30.000 orang dan berhasil dikalahkan oleh Dyah Wijaya, apakah baju zirah tentara Mongol tidak menjadi rampasan perang berharga yang kemudian kelak dikenakan oleh para prajurit atau barisan tempur Majapahit?

Menurut catatan kronik Tiongkok, kebanyakan tempur barisan Majapahit adalah infantri ringan, namun catatan tersebut menyatakan bila barisan tempur Majapahit pun ternyata menggunakan zirah tempur tergantung status kepangkatan. Mulai dari pelindung dada (ches plate armor) sampai chain mail dan berbagai bentuk zirah lain yang rumit. Untuk para perwira dan kalangan bangsawan maka baju zirah akan semakin rumit sedangkan untuk prajurit terendah akan bertelanjang dada.

Dalam kakawin dan kidung, pakaian perang yang digunakan para prajurit di Jawa pada masa lalu, banyak teks di dalamnya. Pakaian perang tersebut dibedakan dalam 3 jenis. Waju Rante ‘baju yang terdiri atas rantai-rantai besi’, [Kidung: KR (7.31), (7.107)]. Kawaca ‘baju baja’, [Kakawin: Ad (202), BhP (135), RY (3.42), AW (7.6), HW (32.8), BK (3.11), KY (46.4), HWj (42.9), KD (15.7). Kidung: Mal (5.88), Ww (2.54)]. Dan Karambalangan ‘lapis logam di depan dada’, [Kakawin: HWj (5.64). Kidung: KR (11.97), Mal (6.90)].

Sekalipun banyak catatan dalam kakawin dan kidung, namun ternyata dalam prasasti, penjelasan ‘baju baja’ tidak ada. Sehingga kemudian banyak arkeolog yang menyangsikan keberadaan realitas ‘baju baja’ tersebut, dikenakan tidak terdapat pada prasasti, benarkah demikian?

Sekalipun memiliki fungsi yang berbeda dengan kakawin dan kidung, jika dilihat lebih jauh ‘baju baja ternyata juga dalam prasasti. Misalnya dalam prasasti Terawulan 1358. Prasasti ini berasal dari masa Raja Hayam Wuruk atau Rajasanagara. Di dalam prasasti tersebut disebut sebagai berikut.

Kepingan V. Bagian belakang

…, Tan katamāna deni winawa mana katrīņi lwīrnya, pangkur, tawan, tirip, salwiraning nāyaka, parttaya, apinghe,
akurug, awajuh, wadihddi, sapuņḍuhnya kabeh makā ding raweh lawan sahananing mangilala drawya haji,…. ,Egara Majapahit , Parwa II, 99).
Terjemahan:

Tempat-tempat itu tidaklah boleh dimasuki oleh mereka yang menerima perintah dari katrini pegawai yang bertiga, yaitu pangkur, tawan dan tirip, serta selanjutnya pelbagai nayaka, percaya, pingai, (yang berpakaian putih), akurug (yang berselubung tameng), awajuh (yang berselubung baju zirah), wadihadi, semua kepercayaan, serta dimulai dengan yang bekerja sama dengan semua macam pemungut cukai raja ….. , (M. Yamin, Tatanegara Majapahit, Parwa II, 103).

Perbandingan Terjemahan

Terjemahan yang dicatat M. Yamin tersebut, sayangnya banyak yang tidak mendapat penjelasan lebih lanjut akan artinya. Jika dilihat berdasar Kamus Jawa Kuna Zoetmulder, maka akan ada sedikit penjelasan, sekalipun penjelasan yang diharapkan juga masih bersifat umum. Sekalipun demikian cukup menjadi penjelas yang sebelumnya belum ada.

Berikut penjelasan berdasar kamus Jawa Kuna Zoetmulder.

Pangkur = diantara pejabat kraton, (Zoetmulder, 1995: 751). Tawan = diantara pejabat kraton, (Zoetmulder, 1995: 1225). Tirip = diantara pejabat kraton, (Zoetmulder, 1995: 1261). Nāyaka = (Skt. pemimpin, kepala) kepala, pemimpin, komandan, di antara yang terkemuka atau terutama, jauh melebihi yang lain-lain, (Zoetmulder, 1995: 695). Parttaya = kategori pejabat (Zoetmulder, 1995: 783). Apinghe = pinghe = kategori pejabat (Zoetmulder, 1995: 823).

Khusus kata akurug (yang berselubung tameng), awajuh (yang berselubung baju zirah) menurut M. Yamin, ternyata memiliki perbedaan dengan arti yang ada dalam Kamus Jawa Kuna. Menurut Zoetmulder, kurug berarti bagian pakaian yang menutupi bagian atas tubuh, kalambi. Dipakai para wanita, pendeta yang memimpin upacara, prajurit (yang terakhir di buat dari logam yang berkilau?), (Zoetmulder, 1995: 543).

Sementara itu awajuh berarti ber-wajuh. Wajuh berarti waju, (Zoetmulder, 1995: 1370). Waju memiliki arti baju, (Zoetmulder, 1995: 1370). Namun demikian dalam RL 7.31; 7.78, Zoetmulder mencatat pemakaian waju khusus untuk tentara: Bala winaju gangsa ranti, (Zoetmulder, 1995: 1370). Tentara berbaju gangsa, ranti. Gangsa (Sansekerta: kangśa) semacam logam campuran dari tembaga dan timah, (Zoetmulder, 1995: 275). Ranti = rante, (Zoetmulder, 1995: 919). Rante = rantai. Waju rante = baju yang terdiri atas rantai-rantai besi, (Zoetmulder, 1995: 919).

Jadi, ketimbang ‘meyakini’ pernyataan dari sebuah film dokumenter yang kontroversial tempo hari bila Jawa dan Nusantara pada masa lalu berada dalam ‘masa kegelapan’ dan sedemikian primitif sehingga kerap kali digambarkan barisan tempurnya bertelanjang dada tanpa pelindung bahkan senjata api pun baru dikenalkan oleh pasukan Turki Utsmani yang konon baru pada era Diponegoro, fakta sejarah malah menunjukkan hal yang berlainan.

Disklaimer ;

Beberapa foto ilustrasi adalah baju zirah yang tersimpan di museum internasional yang berasal dari Asia Tenggara dan beberapa yang dikenakan oleh peraga berdasarkan rekonstruksi sejarah.

Namaste rahayu

Sumber : Net

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Umpan Berita